Lingkup Kerja
  • Register

1. Pengembangan

Sejak tahun 1970-an Balai Bahasa Provinsi DIY telah dan akan terus melakukan kegiatan pengkajian (penelitian) dalam upaya meningkatkan peran, fungsi, dan kedudukan bahasa (Jawa dan Indonesia) dan sastra (Jawa dan Indonesia) di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di bidang bahasa, aspek yang diteliti meliputi bidang morfologi, sintaksis, sosiolinguistik, semantik, dan wacana. Di bidang sastra, aspek yang diteliti meliputi periodesasi (sejarah) sastra, jenis (genre) sastra (puisi, cerpen, novel, drama) sistem pengarang, sistem penerbit, sistem pembaca, sistem kritik, dan lain-lain. Menindak lanjuti kegiatan pengkajian, Balai Bahasa Provinsi DIY telah dan terus melakukan serangkaian kegiatan pengembangan bahasa dan sastra, antara lain, mencakup perkamusan dan peristilahan, pembakuan dan kondifikasi, dan informasi publikasi.

2. Pembinaan

Sebagai wujud pembinaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan untuk meningkatkan sikap positif masyarakat terhadap bahasa dan sastra (Jawa dan Indonesia), Balai Bahasa Provinsi DIY melakukan kegiatan pemasyarakatan, pengajaran, dan peningkatan mutu.

3. Pemasyarakatan

Kegiatan pemasyarakatan bahasa dan sastra (Jawa dan Indonesia) dilakukan melalui penyuluhan, pembinaan keterampilan berbahasa dan apsresiasi sastra, siaran di media elektronik (RRI), pembukaan rubrik di media cetak (koran, majalah), dan pagelaran macapat.

4. Pengajaran

Kegiatan pengajaran dilakukan melalui peningkatan kualitas pengajaran, antara lain dengan penyediaan bahan kebijakan peningkatan mutu pengajaran bahasa dan sastra dari haisl pengkajian atau penelitian pengajaran bahasa dan sastra. Sementara itu, pengajaran BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) juga dilakukan untuk penyebar luasan penggunaan bahasa Indonesia di kalangan masyarakat internasional yang berada di Daerah Instimewa Yogyakarta.

5. Bengkel Bahasa dan Sastra

a. Bengkel Bahasa Bengkel Bahasa Indonesia merupakan sarana peningkatan kualitas menulis (esai, artikel, feature, makalah, karya tulis, dll.). Dalam kegiatan ini, usaha-usaha pelatihan ditekankan pada proses bagaimana cara/teknik menggali ide/gagasan, cara menangkap peristiwa atau masalah tertentuk, dan mengklarifikasi, menggeneralisasi, serta menuangkan ide atau gagasan ke dalam bentuk tulisan yang sesuai criteria kaidah bahasa yang baik. Untuk sementara, peserta kegiatan ini terbatas bagi para siswa sekolah menengan (SLTP dan SLTA). Kegiatan ini dilakukan selama 10 kali pertemuan, setiap hari Minggu, pukul 09.00 -13.00 di Balai Bahasa Provinsi DIY.

b. Bengkel Sastra Bengkel Sastra Indonesia merupakan tempat untuk berlatih apresiasi (menyimak, membaca, memahami) dan ekspresi/kreasi, baik lisan (membacakan, memangggungkan) maupun tulis (menulis, mencipta) karya sastra Indonesia. Metode pelatihan lebih difokuskan pada praktik bersastra, mulai dari cara menangkap momen puitik/dramatik, menggali ide atau gagasan kreatif, mengembangkan imajinasi, sampai pada cara mengolah, mengkristalkan dan mengekspresikan ide atau gagasan ke dalam bentuk karya kreatif (puisi, cerpen, naskah drama, dll.), olah vokal, teknik pembacaan atau pemanggungan, dll. Seperti Bengkel Bahasa Indonesia, kegiatan ini terbatas bagi para siswa sekolah menengan (SLTP dan SLTA). Kegiatan ini dilakukan selama 10 kali pertemuan, setiap hari Minggu, pukul 09.00 -13.00 di Balai Bahasa Provinsi DIY.

Hal sastra Jawa, Balai Bahasa Provinsi DIY menyelenggarakan Bengkel Sastra Jawa untuk peningkatan kualitas berbahasa dan bersastra Jawa. Kegiatan ini telah dilakasanakan secara rutin sejak tahun 1998. Metode pelatihan yang diterapkan sama dengan metode dalam kegiatan Bengkel Sastra Indonesia. Untuk sementara, kegiatan ini terbatas bagi para siswa sekolah menengan (SLTP dan SLTA). Hanya saja, pola yang diterapkan hanya 5 kali pertemuan, setiap hari Minggu/libur, pukul 09.00 – 13.00 di Balai Bahasa Provinsi DIY.

6. Sanggar Bahasa dan Sastra

a. Sanggar Bahasa Indonesia Yogyakarta (SBIY) Didirikan oleh Balai Bahasa Provinsi DIY pada tahun 2004. SBIY merupakan wadah kegiatan beroalh kreatif kepenulisan, terutama penulisan non-sastra.

b. Sanggar Sastra Indonesia Yogyakarta (SSIY) Didirikan oleh Balai Bahasa Provinsi DIY pada 3 Mei 1998 dengan tujuan memberikan tempat bagi alumni peserta Bengkel Sastra Indonesia dan siswa SLTA serta peminat sastra untuk berolah sastra.

c. Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta (SSJY) Didirikan oleh Balai Bahasa Provinsi DIY pada 12 Januari 1991. Pendirian SSJY dilatar belakangi oleh kegiatan “Temu Pengarang, Penerbit, dan Pembaca Sastra” di Taman Budaya Yogyakarta. Kegiatan rutin yang dilakukan adalah berdiskusi dan berkreasi di bidan bahasa dan sastra Jawa.

7. Temu Bahasa dan Sastra, Lomba, dan Pemberian Penghargaan

a. Temu Bahasa dan Sastra Temu bahasa dan sastra diwujudkan dalam kegiatan sarasehan, seminar, lokakarya, dll. Dalam temu bahasa dan sastra ini dihadirkan para ahli/praktisi (pakar bahasa, pakar sastra, pakar pendidikan bahasa/sastra, sastrawan, dll.), baik lokal maupun nasional, untuk menjadi pembicara.

b. Lomba Kebahasaan dan Kesastraan Beragam lomba kebahasaan dan kesastraan diselenggarkan secara rutin. Lomba ini merupakan kegiatan bagi masyarakat luas. Sebagai tindak lanjutnya, karya-karya nominasi dan pemenang lomba diterbitkan dalam bentuk buku (antologi) dan disebar luaskan kepada masyarakat.

c. Penghargaan Bahasa dan Sastra Sejak tahun 2007 Balai Bahasa Provinsi DIY memberikan penghargaan khususnya kepada para penulis/pengarang di wilayah DIY yang karyanya dinilai baik (unggul). Penghargaan ini akan diberikan setiap tahun. Karya yang unggul dan terbit pada tahun 2006 diberi penghargaan pada tahun 2007 dan karya yang unggul dan terbit pada tahun 2007 akan diberikan penghargaan pada tahun 2008 dan seterusnya.Lingku

02672481
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Minggu lalu
Bulan ini
Bulan lalu
Total
600
504
600
140713
24312
23180
2672481
Your IP: 54.196.72.162
2017-10-22 13:22

Tentang Balai Bahasa DIY

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka. Setelah merdeka, pemerintah memandang perlu untuk mendirikan sebuah lembaga yang bertugas menangani masalah bahasa. Oleh karena itu, pada Juni 1947, dibentuk Panitia Pekerja Bahasa Indonesia, diketuai K.R.T. Amin Singgih. Namun, akibat peristiwa politik saat itu, Panitia Pekerja Bahasa Indonesia tidak segera dapat bekerja karena pusat pemerintahan berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Setelah pusat pemerintahan berada di Yogyakarta, panitia tersebut mulai bekerja dan pada Februari 1948 berhasil membentuk sebuah lembaga bernama Balai Bahasa.  Selengkapnya