Kronik
  • Register

YOGYAKARTA, balaibahasa.org – Minggu pagi (2/4), kantor Balai Bahasa DIY, dipadati tidak kurang dari 350 siswa peserta Bengkel Bahasa dan Sastra 2017 dari kabupaten Sleman, Kulon Progo, Gunungkidul, Bantul, dan Kota Yogyakarta. Para peserta Bengkel Bahasa dan Sastra pada hari itu (Minggu-red) mengikuti orientasi lapangan di Desa Wisata Ledok Sambi, Kaliurang.

Kegiatan orientasi lapangan ini diselenggarakan pada pertemuan kedua yang disebelumnya telah didahului dengan acara pembukaan Bengkel Bahasa dan Sastra 2017 secara serempak di empat kabupaten dan satu kota di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Saat pembukaan orientasi lapangan di Desa Ledok Sambi, Kaliurang, Dr. Tirto Suwondo, selaku Kepala Balai Bahasa DIY, mengatakan bahwa kegiatan orientasi lapangan, selain sebagai sarana eksplorasi ide, juga menjadi wahana perekat untuk saling kenal antar peserta dan Balai Bahasa DIY. Dalam kesempatan itu pula diharapkan bahwa para peserta bengkel dapat menjadi agen literasi di masyarakat seusai mengikuti program Bengkel Bahasa dan Sastra di Balai Bahasa DIY.

Dalam kegiatan orientasi lapangan, para peserta melakukan eksplorasi ide melalui permainan ketangkasan yang menguji kreativitas. Acara tersebut berakhir pada pukul 14.00. Setelah orientasi lapangan, peserta selanjutnya akan fokus berlatih menulis cerpen dan puisi bersama para sastrawan, penulis, praktisi, dan akademisi Yogyakarta (Iman Budhi Santosa, Ikun Eska, Evi Idawati, Esti Nur Kasam, Labibah, ST. Kartono, dan Hairus Salim)selama delapan kali pertemuan hingga bulan Mei. (adm)

02716877
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Minggu lalu
Bulan ini
Bulan lalu
Total
1245
1013
4769
181191
11662
24312
2716877
Your IP: 54.196.182.102
2017-12-14 22:05

Tentang Balai Bahasa DIY

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka. Setelah merdeka, pemerintah memandang perlu untuk mendirikan sebuah lembaga yang bertugas menangani masalah bahasa. Oleh karena itu, pada Juni 1947, dibentuk Panitia Pekerja Bahasa Indonesia, diketuai K.R.T. Amin Singgih. Namun, akibat peristiwa politik saat itu, Panitia Pekerja Bahasa Indonesia tidak segera dapat bekerja karena pusat pemerintahan berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Setelah pusat pemerintahan berada di Yogyakarta, panitia tersebut mulai bekerja dan pada Februari 1948 berhasil membentuk sebuah lembaga bernama Balai Bahasa.  Selengkapnya