Artikel/Esai
  • Register

Salebeting gesang ing ngalam donya, manungsa kaangkah saged pianggih ing karahayon. Semanten ugi tumrapipun tiyang Jawi. Wonten ing madyaning kabudayan Jawi, gegayuhan luhur ingkang idheal dados pepinginan ingkang tansah dipunwucalanaken amargi manugsa lajeng saged tanggap ing grahita. Tiyang ingkang grahitaipun gesang batosipun santosa.

Read more...

Herry Mardianto

Peneliti Sastra di Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Bukanlah hal berlebihan jika hampir sepuluh tahun silam Dorethea Rosa Herliany, penyair wanita kelahiran Magelang, mengemukakan pendapat bahwa untuk melihat sastra Indonesia modern secara strategis dapat dilakukan dengan mengamati perkembangan kesusastraan di Yogyakarta. Alasannya karena pertumbuhan kesastraan di Yogyakarta memiliki dinamika yang tidak kehabisan sisi menariknya--berbagai peristiwa dapat menjadi "intuisi" untuk iklim  pertumbuhan kesenian, sastra Yogya tidak mengalami  stagnasi; di samping banyaknya penerbitan karya sastra dalam bentuk buku  sebagai  kontribusi pengembangan  peta kesusastraan Indonesia  modern.

Read more...

Tirto Suwondo

Selamat sore, salam sejahtera, dan salam sastra,

Karena ini masih dalam bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, secara pribadi saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi hadirin yang benar-benar sedang menjalankannya. Mudah-mudahan ibadahnya diterima oleh Allah Swt dan kelak senantiasa mendapatkan limpahan berkah yang berlipat ganda dari-Nya. Amiiinn.

Read more...

Tirto Suwondo

Peneliti Sastra Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Kata para cerdik-pandai, pada hakikatnya, sastra --yang lebih berurusan dengan masalah keindahan (dan kebaikan atau kebenaran)-- merupakan “pertunjukan dalam kata-kata”. Dengan pertunjukan ini, sastra memiliki kekuatan menghibur. Dengan adanya kata-kata yang menjadi komponen pentingnya, sastra juga memiliki potensi mengajar. Pengajaran tidak mungkin berlangsung tanpa kata-kata meskipun pendidikan lebih efektif disampaikan melalui tindakan. Selain itu, sastra pada hakikatnya juga merupakan “dunia dalam kata-kata”.

Read more...

02672367
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Minggu lalu
Bulan ini
Bulan lalu
Total
486
504
486
140713
24198
23180
2672367
Your IP: 54.196.72.162
2017-10-22 13:12

Tentang Balai Bahasa DIY

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka. Setelah merdeka, pemerintah memandang perlu untuk mendirikan sebuah lembaga yang bertugas menangani masalah bahasa. Oleh karena itu, pada Juni 1947, dibentuk Panitia Pekerja Bahasa Indonesia, diketuai K.R.T. Amin Singgih. Namun, akibat peristiwa politik saat itu, Panitia Pekerja Bahasa Indonesia tidak segera dapat bekerja karena pusat pemerintahan berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Setelah pusat pemerintahan berada di Yogyakarta, panitia tersebut mulai bekerja dan pada Februari 1948 berhasil membentuk sebuah lembaga bernama Balai Bahasa.  Selengkapnya