Tokoh
  • Register

Lahir pada hari Minggu Kliwon, tanggal 28 Maret 1948, di desa Kauman, Magetan, Jawa Timur. Agama yang dianutnya adalah Islam. Ayahnya bernama Iman Sukandar dari wilayah Kebumen, Jawa Tengah. Agama yang dianutnya adalah Islam. Ibunya bernama Hartiyatim berasal dari Magetan, Jawa Timur. Agama yang dianutnya juga Islam. Sejak kecil, IBS tidak mendapatkan belaian kasih sayang dari ayah kandungnya. Karena sewaktu ia berumur 1,5 tahun ayah dan ibunya cerai. Kemudian IBS tinggal bersama ibunya di tempat kakek dan neneknya di Magetan. IBS merasa soliter dalam hidup sehingga dianggap bahwa hidupnya sebagai “Dunia Semata Wayang”.

IBS ”kecil” tidak merasakan masa kanak-kanaknya sebagai masa bahagia, penuh kenangan. Kakeknya yang pensiunan kepala Sekolah Rakyat (SR/SD) zaman Belanda dan ibunya yang menginginkan anak satu-satunya itu sukses, justru “menghukumnya” dengan cambuk “harus menjadi pandai”. Ketika anak seusianya riang bermain bola di Alun-Alun, ia diharuskan ikut kursus mengetik, yang tidak lazim untuk anak seusianya di masa itu. Tak heran, jika hingga kini kerapian dan keruntutan hasil ketikannya tidak jauh berbeda dengan lay-outhasil olah komputer.

Ketika IBS memasuki kelas enam SR, ibunya kawin lagi dengan sastrawan Jawa terkenal, Any Asmara (a.l.). Dengan kejadian itu, hati kecil IBS terasa terpukul karena ibunya yang menjadi buah pujaan dirampas orang lain. Ia merasakan di kemudian hari bahwa kasih sayang ibunya selama itu akan terbagi dua dengan kehadiran Any Asmara. Sebenarnya dalam hati kecil IBS tidak rela ibunya diperisteri pengarang sastra Jawa itu. Namun, apa daya anak seusia dirinya hanya menerima dan menerima kenyataan.

Setelah usia menapak 23 tahun, tepatnya pada bulan September 1971, IBS meminang seorang gadis dari wilayah Purworejo bernama Sri Maryati. Agama yang dianutnya adalah Islam. Pasangan IBS dengan Sri Maryati itu dikaruniai 4 anak, yaitu (1) Wisang Prangwadani (a.l.), (2) Pawang Surya Kencana, (3) Risang Rahjati Prabowo, dan (4) Ratnasari Devi Kundari. Dalam waktu  7 tahun usia perkawinan IBS dengan Sri Maryati. Keluarga itu mendapat batu sandungan. Keduanya memilih jalan hidup sendiri-sendiri. Sri Maryati pulang kembali ke orang tuanya di wilayah Purworejo. Sedangkan IBS sendiri memilih tetap mengelana di kota gudeg untuk berkarya sastra.

IBS mulai belajar menulis dan membaca secara formal di Sekolah Rakyat di Magetan, Jawa Timur. Ia lulus SR pada tahun 1960. Selanjutnya, ia melanjutkan belajar di SMP/SLTP di Magetan juga. Ia lulus pada tahun 1963. Berkenaan orang tuanya pindah ke Yogyakarta maka IBS pun ikut ke Yogyakarta. Di kota pelajar ini, IBS melanjutkan belajarnya di Sekolah Menengah Kejuruan Yayasan Dana Pendidikan Perkebunan Muja-Muju 52 (SMK YDPP MM 52) di Jalan Kenari 65 Yogyakarta. IBS belajar di SPbMA/SMK YDPP MM 52,  selama empat tahun dan lulus tahun 1968. Sewaktu bekerja di Dinas Perkebunan Propinsi Dati I Jawa Tengah, ia mendapat kesempatan untuk melanjutkan studinya di Akademi Farming, Semarang. Ia lulus pada tahun 1983.

IBS memulai kariernya pada tahun 1971, ia bekerja di lereng gunung Ungaran, menjadi sinder perkebunan teh Medini sampai tahun 1975. Ia keluar, dan masuk bekerja lagi di pabrik gula Cipiring, Kendal, Semarang, Jawa Tengah. Belum ada tiga bulan, lamanya ke Dinas Perkebunan.

02913058
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Minggu lalu
Bulan ini
Bulan lalu
Total
268
425
1305
384880
10448
16434
2913058
Your IP: 54.162.159.33
2018-09-26 13:52