Tokoh
  • Register

Nama lengkap Dorethea Rosa Herliany, meskipun demikian teman-temannya lebih sering memanggilnya Rosa.  Lahir  di Magelang,  20 Oktober 1963, anak keempat dari enam bersaudara. Menempuh pendidikan di SD Tarakanita, Magelang; SMP Pendowo, Magenga; SMA Tella Duce, Yogyakarta; dan kuliah di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta. Ayahnya, A. Wim Sugito bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Akademi Militer Nasional (AMN), Magelang; dan ibunya, A. Louisye  merupakan seorang ibu rumah tangga. Dari  kesederhanaan kehidupan keluarga, Rosa rajin membaca buku apapun yang didapatkannya—baik dari perpustakaan sekolah maupun meminjam dari koleksi  tetangga  yang kebetulan memiliki banyak buku dan majalah.

Kebiasaannya membaca menumbuhkan kemampuan menulis apa saja, termasuk menulis cerita dan puisi. Karya perdananya yang dipublikasi berbentuk opini, dimuat dalam majalah remaja  Hai saat Rosa masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).  Pemuatan tulisan pertamanya  memicu semangatnya untuk  terus menulis. Dalam perjalanan selanjutnya, ia tetap mempunyai keinginan keras menjadi penulis sehingga ia melupakan cita-cita menjadi psikolog dan tidak mewujudkan harapan kedua orang tuanya yang menginginkan Rosa menjadi pegawai negeri agar mempunyai penghasilan tetap dan hidup berkecukupan. Di bangku kuliah (IKIP Sanata Dharma), keinginan menjadi

penulis kian tidak terbendung karena berbagai lomba menulis sering diadakan IKIP Sanata Dharma maupun perguruan tinggi lainnya.  Ia muncul sebagai pemenang Lomba Penulisan Puisi Hari Chairil Anwar (diselenggarakan Senat Mahasiswa Sastra Indonesia, IKIP Sanata Dharma, 1981),  pemenang Lomba Penulisan Puisi Dies  Natalis IKIP Sanata Dharma (1985), pemenang Lomba Penulisan Puisi (diselenggarakan Institut Filsafat dan Theologia Yogyakarta, 1985), juara Lomba Penulisan Esai (1986), Minister of Environment Award for Best Environment (1994),  Penghargaan Assosiasi Wartawan Jawa Tengah Indonesia (1995),  Pemenang II Sayembara Kumpulan Puisi Terbaik PKJ TIM (1998),  Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta (“Mimpi Gugur Daun Zaitun”, 2000), Nominator The Khatulistiwa Literary Award (sajak “Kill the Radio”, 2003), Penulis terbaik Pusat Bahasa (2003), Penerima Penghargaan Seni Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (2004), Penerima The Khatulistiwa Literary Award  (karya “Santa Rosa”, 2006).

Perempuan penyair dan cerpenis ini memulai karirnya sebagai penulis lepas di harian Sinar Harapan (1983),  wartawan harian Suara Pembaruan (1986), redaksi majalah Prospek (1990), majalah wanita Sarinah (1993),  pemimpin redaksi majalah Kolong Budaya (1995), wakil pemimpin redaksi majalah Matabaca (2002), konsultan Pekan Raya Buku Nasional (Aceh Nangroe Darussalam, 2007), mendirikan Yayasan Indonesia Tera sekaligus menjabat sebagai Direktur (2000), dan pemimpin redaksi Indonesia Tera  (2007). Beberapa karya yang telah diterbitkan termuat dalam antologi pribadi maupun antologi bersama, di antaranya: Nyanyian Gaduh (kumpulan puisi, 1987),  Matahari yang Mengalir (kumpulan puisi, 1990), Kepompong Sunyi (kumpulan puisi, 1993), Cerita dari Hutan Bakau (kumpulan puisi, 1994), Nikah Ilalang (kumpulan puisi, 1995),  dan Kill the Radio (kumpulan puisi edisi dwi bahasa, 2001)—diterbitkan ulang oleh Arc Publication, London (2007). Cerpen Rosa termuat dalam kumpulan Pagelaran (1993),  Guru Tarno (1994),  Blencong (1995), Candramawa (1995), Karikatur dan Sepotong Cinta (1996), dan  Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999) . Paling tidak, Rosa telah menerbitkan 18 judul buku , terdiri dari kumpulan puisi, cerpen, cerita anak, cerita remaja, dan cerita rakyat. Karya-karya Rosa telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Jepang, Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Vietnam, dan Korea. Beberapa kali ia berpergian keluar negeri dalam rangka pertemuan sastra, misalnya mengikuti  pertemuan sastrawan muda ASEAN di Filipina (1990),  pertemuan penyair internasional di Rotterdam (1995),  dan berkesempatan menjadi writer residence  di Australia. Di samping menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia, Rosa juga pernah menulis geguritan (puisi Jawa) dan crita cekak (cerpen Jawa) pada tahun 1980-an saat ia begitu produktif menulis.

Perempuan pengagum Sapardi Djoko Damono, W.S. Rendra, dan Arswendo Atmowiloto ini  dikarunia dua orang anak dari perkawinannya dengan Andreas Darmanto, teman kuliah yang bergelut dalam jagad penulisan.  Saling jatuh hati  ketika keduanya menyukai dunia teater dan terlibat dalam pementasan naskah Putu Wijaya untuk dipentaskan di kampus. Mereka menikah pada tahun 1991. Dua puterinya adalah Regina Redaning dan Sabina Kencana Arimanintan. Sejak kecil mereka diperkenalkan dengan dunia imajinasi dan “didekatkan” dengan dunia buku. Rosa, di tengah-tengah kesibukannya, selalu menyempatkan diri memperkenalkan buku kepada anak-anaknya dan mendongeng bagi kedua puterinya menjelang mereka tidur. Dalam mendidik kedua puterinya, Rosa selalu menekankan bahwa sekolah bukan satu-satunya jalan untuk menjadi manusia yang baik. Hakikat tujuan hidup yang sesungguhnya bukanlah untuk menjadi manusia sukses, lebih dari itu adalah menjadi manusia yang baik.

Bersama suaminya, perempuan pejuang humanisme ini mengelola Indonesia Tera—yayasan yang bergerak di bidang  penerbitan, pendidikan, penelitian, dokumentasi, apresiasi seni, dan pengembangan jaringan kerja sama kebudayaan. Indonesia Tera berhasil menerbitkan puluhan bahkan ratusan buku berkualitas sehingga menjadi penerbit Indonesia yang pertama kali  diundang dalam pameran buku internasional “Frankurt Book Fair” (2003). Kondisi yang memperihatinkan menyangkut kenyataan bahwa buku-buku berkualitas terbitan Indonesia Tera tidak laku di pasaran  sehingga membuat Indonesia Tera gulung tikar. Kosentrasi Rosa beralih ke Dunia Tera yang bergerak dalam penjualan buku dan penyediaan perpustakaan gratis serta memotivasi para penggiat budaya.
Dorethea Rosa Herliany lahir dan tinggal di Magelang. Meskipun begitu ia mengaku bahwa tanah kelahirannya adalah Yogyakarta, setidaknya sejak SMA, Rosa telah menghirup udara Yogya.  Yogyakarta adalah  “tanah  air” bagi karya-karya yang diciptakannya dan di Yogyakarta karya-karya Rosa tumbuh subur hingga mendapat pengakuan dari masyarakat sastra.

02942897
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Minggu lalu
Bulan ini
Bulan lalu
Total
124
341
2400
413495
4976
10847
2942897
Your IP: 34.228.41.66
2018-12-15 03:01