Sejarah
  • Register

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka. Setelah merdeka, pemerintah memandang perlu untuk mendirikan sebuah lembaga yang bertugas menangani masalah bahasa. Oleh karena itu, pada Juni 1947, dibentuk Panitia Pekerja Bahasa Indonesia, diketuai K.R.T. Amin Singgih. Namun, akibat peristiwa politik saat itu, Panitia Pekerja Bahasa Indonesia tidak segera dapat bekerja karena pusat pemerintahan berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Setelah pusat pemerintahan berada di Yogyakarta, panitia tersebut mulai bekerja dan pada Februari 1948 berhasil membentuk sebuah lembaga bernama Balai Bahasa. Saat itu Balai Bahasa dipimpin oleh Amir Dahlan (A. Dahler) dan berkantor di Sekolah Guru Puteri, Jalan Jati 2, Yogyakarta. Amir Dahlan hanya beberapa bulan memimpin Balai Bahasa karena pada 8 Juni 1948 beliau meninggal.

Pada tanggal 19 Desember 1948, terjadilah suatu peristiwa menyedihkan, yakni Belanda menyerbu Yogyakarta. Akibatnya, Balai Bahasa, begitu juga dengan lembaga-lembaga lainnya, tidak dapat menjalankan aktivitasnya. Barulah ketika Belanda meninggalkan Yogyakarta (Juni 1949), D. Martadarsana, wakil sekretaris Balai Bahasa, membuka kembali kantor Balai Bahasa di rumahnya, Jalan Merbabu 15, Yogyakarta. Saat itu Balai Bahasa dipimpin oleh R.T. Singgih (sebagai pejabat sementara) yang kemudian digantikan oleh Prof. Dr. Prijono sampai akhir Juli 1949.

Sejak Juni 1951 Balai Bahasa dipindahkan dari Yogyakarta ke Jakarta. Pada Agustus 1952, Balai Bahasa menjadi bagian Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Pada saat itu nama Balai Bahasa diganti menjadi Lembaga Bahasa dan Budaya. Lembaga Bahasa dan Budaya mempunyai tiga cabang, yaitu di (1) Yogyakarta, dipimpin oleh Tardjan Hadidjaja, (2) Singaraja, dipimpin oleh Dr. R. Goris, dan (3) Makasar, dipimpin oleh Abdurrahim. Ketika itu Lembaga Bahasa dan Budaya Cabang Yogyakarta memiliki dua kantor, yaitu (1) Lembaga Bahasa dan Budaya Cabang Yogyakarta, berada di bawah naungan Universitas Indonesia, dipimpin oleh Tardjan Hadidjaja hingga 1960, kemudian digantikan oleh Tedjosoesastro, dan (2) Jawatan Kebudayaan Bagian Bahasa, berada di bawah naungan Jawatan Kebudayaan, dipimpin oleh Sumidi Adisasmita.

Pada tahun 1966 nama Lembaga Bahasa dan Budaya diubah menjadi Direktorat Bahasa dan Kesusastraan. Kedudukannya tidak lagi berada di bawah Fakultas Sastra UI, tetapi di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1969 nama direktorat itu diubah lagi menjadi Lembaga Bahasa Nasional. Lembaga yang berada di Yogyakarta disebut Lembaga Bahasa Nasional Cabang II. Sejak Desember 1969 Lembaga Bahasa Nasional Cabang II dipimpin Drs. Mudjanattistomo, menggantikan Tedjosoesastro yang memasuki usia pensiun. Pada tahun 1975 Drs. Mudjanattistomo bertugas ke Belanda dan untuk sementara lembaga ini dipimpin Dr. Soepomo Poedjosoedarmo. Setelah pulang ke Indonesia (1977), Drs. Mudjanattistomo kembali memimpin lembaga ini hingga 1978.

Sejak April 1975 Lembaga Bahasa Nasional (di Jakarta) diubah namanya menjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, sedangkan sejak Agustus 1978, nama Lembaga Bahasa Nasional Cabang II (di Yogyakarta) diubah menjadi Balai Penelitian Bahasa. Secara berturut-turut, Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta dipimpin oleh Dra. Wedhawati (sebagai pjs., 1978-1983), Prof. Drs. M. Ramlan (1983-1987), Dr. Sudarjanto (1987-1991), dan Drs. Suwadji (1991-2002). Sejak tahun 2002 s.d. 2007, Balai Bahasa Provinsi DIY dipimpin oleh Drs. Syamsul Arifin, M.Hum, pada tahun 2007 s.d. 2017, Balai Bahasa DIY dipimpin oleh Dr. Tirto Suwondo, M. Hum. Lalu, pada tahun 2017, Balai Bahasa DIY dipimpin oleh Drs. Pardi, M.Hum.

Sementara itu, sejak tahun 1999, nama Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa diubah menjadi Pusat Bahasa, sedangkan nama Balai Penelitian Bahasa diubah lagi menjadi Balai Bahasa. Perkembangan selanjutnya, sejak tahun 2012, nama Pusat Bahasa diubah menjadi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, sedangkan Balai Bahasa Yogyakarta diubah menjadi Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

02615249
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Minggu lalu
Bulan ini
Bulan lalu
Total
425
652
3147
83409
10460
18609
2615249
Your IP: 54.162.64.108
2017-08-17 20:44

Tentang Balai Bahasa DIY

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka. Setelah merdeka, pemerintah memandang perlu untuk mendirikan sebuah lembaga yang bertugas menangani masalah bahasa. Oleh karena itu, pada Juni 1947, dibentuk Panitia Pekerja Bahasa Indonesia, diketuai K.R.T. Amin Singgih. Namun, akibat peristiwa politik saat itu, Panitia Pekerja Bahasa Indonesia tidak segera dapat bekerja karena pusat pemerintahan berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Setelah pusat pemerintahan berada di Yogyakarta, panitia tersebut mulai bekerja dan pada Februari 1948 berhasil membentuk sebuah lembaga bernama Balai Bahasa.  Selengkapnya