Beranda
  • Register

Regulasi

Produk

Pengumuman

Organisasi

Pedoman & Acuan

Laporan

Rencana & Program

Standar Layanan

Tokoh

YOGYAKARTA, balaibahasa.org - Panitia penghargaan bahasa dan sastra Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta masih membuka peluang bagi penulis, penerbit, dan perguruan tinggi yang belum memasukkan berkas atau buku untuk diikutkan dalam seleksi penerima pengharganaa bahasa dan sastra tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa DIY. Menurut ketua panitia, Ratun Untoro, M.Hum., perpanjangan batas waktu penerimaan buku dan berkas penilaian tersebut perlu dilakukan karena masih banyak buku sastra berpotensi yang belum masuk ke panitia.

“Sayang jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan oleh para penulis atau penerbit. Penghargaan bahasa dan sastra yang dilakukan oleh Balai Bahasa DIY merupakan salah satu upaya membuat sejarah perkembangan sastra di DIY. Oleh karena itu, keterlibatan penulis dan penerbit Yogyakarta akan sangat berarti bagi perkembangan sejarah sastra DIY,” ujar Ratun. Sementara itu, penerimaan berkas penilaian untuk penghargaan penggunaan bahasa Indonesia di perguruan tinggi DIY juga diperpanjang sesuai surat yang telah disusulkan melalui pos.

Panitia masih membuka peluang bagi para penerbit dan penulis buku sastra sesuai kriteria untuk mengirimkan ke Balai Bahasa DIY dengan alamat Jalan I Dewa Nyoman Oka 34 Yogyakarta sampai dengan tanggal 31 Juli 2017. Berikut ini tiga kategori penghargaan, yakni Penghargaan Bahasa, Penghargaan Sastra, dan Penghargaan Tokoh. Penghargaan Bahasa akan diberikan kepada (1) penggunaan bahasa Indonesia dalam tata naskah dinas di SLTA dan (2) penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik perguruan tinggi negeri dan swasta. Penghargaan Sastra akan diberikan kepada (1) buku sastra Indonesia, (2) buku sastra anak, dan (3) buku sastra Jawa. Penghargaan Tokoh akan diberikan kepada (1) tokoh penggerak sastra Indonesia dan (2) tokoh penggerak bahasa dan sastra Jawa. Informasi selengkapnya, silakan hubungi Panitia Penghargaan Bahasa dan Sastra tahun 2017 melalui nomor telepon (0274) 562070, atau nara hubung 081340419415 (Ratun Untoro) (adm.)

YOGYAKARTA, balaibahasa.org - Setelah penambahan waktu pengiriman naskah, akhirnya Panitia Lomba Penulisan Esai dan Cerpen bagi Remaja DIY tahun 2017 telah menyelesaikan tahap seleksi naskah. Hari Senin (10/7), para juri telah menentukan nomine untuk masing-masing kategori. Juri Lomba Penulisan Esai yang atas Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum., Drs. Purwadmadi, dan Drs. Edi Setiyanto, M.Hum., telah menetapkan 10 nomine lomba penulisan esai bagi remaja DIY. Sepuluh nomine tersebut, antara lain Abdalla Vebriano Adrian, Anisa Ratih Pratiwi, Al Farisi, Ach. Khotibul Umam, Moh. ALi Tsabit, Mughnifia Putri Sabrina, Muchlas Jaelani, Ach. Ainun najib, Muhammad Syafiq  Addarisiy, dan Ilham Dary Athallah.

Sementara, untuk kategori penulisan cerpen bagi remaja, juri yang beranggotakan Sri Kuncoro, Naomi Srikandi, dan Ahmad Zamzuri telah menetapkan 10 nomine, antara lain Muh. Abdul Hadi, Ahmad Darus Salam, Arrethussa Damang Atthavana, Permadi Suntama, E. Lapiga Bodhidarma, Misnama, Wika G. Wulandari, Reva Nurrohmah, Putri Maulita Islami, dan Masyita Deta Rahadaani. Berita acara lengkap dapat diunduh di sini.

Terkait hal itu, Ketua Panitia, Nindwihapsari mengatakan bahwa para nomine dimohon hadir pada hari Kamis, 13 Juli 2017, pukul 09.00, di ruang Sutan Takdir Alisyahbana (lantai 2), Balai Bahasa DIY, untuk pertemuan teknis (technical meeting). (adm)

Galeri

Tautan

02618441
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Minggu lalu
Bulan ini
Bulan lalu
Total
683
539
1763
87478
13652
18609
2618441
Your IP: 54.159.124.79
2017-08-22 18:04

Grafik Pengguna Layanan Balai Bahasa DIY Tahun 2017

 Pengunjung Perpustakaan

Peserta UKBI

Layanan Konsultasi

Tentang Balai Bahasa DIY

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka. Setelah merdeka, pemerintah memandang perlu untuk mendirikan sebuah lembaga yang bertugas menangani masalah bahasa. Oleh karena itu, pada Juni 1947, dibentuk Panitia Pekerja Bahasa Indonesia, diketuai K.R.T. Amin Singgih. Namun, akibat peristiwa politik saat itu, Panitia Pekerja Bahasa Indonesia tidak segera dapat bekerja karena pusat pemerintahan berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Setelah pusat pemerintahan berada di Yogyakarta, panitia tersebut mulai bekerja dan pada Februari 1948 berhasil membentuk sebuah lembaga bernama Balai Bahasa.  Selengkapnya